Sabtu, 12 Februari 2011

PERNIKAHAN SEDARAH

Dari Haridianto
Di Jawa Timur (Banyuangi)
Pendengar nurani yang budiman
Aku adalah seorang bapak yang saat ini telah berusia 63 Tahun, ditengah usiaku yang telah mulai renta ini, ternyata aku diberi ujian oleh Allah ta’alaa, yang entah itu merupakan imbalan atas perbuatanku dimasa mudaku dulu.., bahkan aku sendiri merasa sedih dengan peristiwa ini, Demi Allah ini bukan kisah rekayasa semata yg kutulis untuk mendapatkan perhatian dari para pendengar atau hanya untuk senasi semata, sebab usia ini sudah tak pantas lagi berprilaku seperti itu, aku hanya ingin agar terbacanya kisahku ini, akan member manfaat bagi banyak orang terutama diriku sendri yang menglami kejadian ini secara langsung
Pendengar Nurani yang baik
Kisah ini bermula dari masa mudaku.., dimana saat itu aku baru berusia 23 Tahun dan baru 2 tahun menamatkan studyku disebuah Universitas Swasta didaerahku, sebagai seorang pemuda kampong tentunya akupun memiliki harapan untuk hidup lebih baik dan sukses setelah menggondol ijazah sarjana Teknik, apalagi aku terlahir dari keluarga yg sangat sederhana. Besar harapanku untuk bias membahagiakan kedua orang tuaku yg usianya mulai lapuk ditelan waktu dan bias membalas jasa2 mereka yg telah  susah payah menyekolahkan aku hingga tamat perguruan tinggi, selain itu, aku memiliki obsesi lain, yakni untuk segera melamar keksih hatiku meylinda, yg telah kupacari sejak SMA dulu, melylinda juga adalah gadis kampong yg tidak pernah mengenal budaya2 kota yg begitu pesat perkembangannya, dan aku sangat menyayanginya, apalagi aku sadari bahwa (Maaf) aku telah berlaku tidak senonoh padanya saatt itu, maklum kami sama2 muda-mudi yg dimabuk cinta dan tanpa landasan syari’at, sedang aku sendiri menyadari bahwa orang tuaku tak mampu lagi untuk menikahkan aku, disbabkan oleh keterbatasan materi yg mereka miliki, olehnya dengan berbekal restu dari ibu bapakku, serta izin dari meylinda maka aku hijrah ke bandung untuk mengadu nasib, dengan harapan agar semua harapan dan impianku akan bias aku raih, termasuk menikahi meylinda setelahnya, aku ingat betul saat itu, tepat dipertengahan tahun 1971 dengan perasaan haru dan sedih aku dilepas oleh keluargaku dan juga meylinda, berat rasanya meninggalkan mereka semua, tapi aku harus meraih mimpi itu, agar sedikitnya taraf kehidupan keluargaku bias sedikit terangkat oleh prestasi dan kesuksesanku nanti. Aku lihat wajah ibu dan bapakku begitu sedih melepaskan aku, terang saja mereka sedih, sebab ini kali pertama aku berpisah dengan mereka, kulihat juga wajah sembab meylinda yg begitu berat melepaskan aku pergi, dan seolah membiasakan sejuta pengharapan agar aku segera kembali dan meminangnya. Akupun tak diberitahunya bahwa saat itu telah terjadi sesuatu dalam dirinya, yakni sesuatu yg tidak seharusnya terjadi, meylinda tidak menyampaikan padaku bahwa saat itu siklus haidnya sudah tidak lancer lagi, dan sesuatu yg diakibatkan oleh ulah kami berduapun akhirnya berbuah benih janin yg sepatutnya belum pantas terjadi.
Pendengar Nurani yang baik..
Waktu jua yang membawaku pada sebuah proses kehidupan yang begitu cepatnya, dengan berbekal ketrampilan dan ijazah S1 yang aku miliki, aku langsung diterima menjadi karyawan tetap disebuah perusahaan swasta dibandung, sementara itu aku tak pernah melewatkan waktu yg berlalu tanpa menyurati keluargaku.., kukabari sedetilpun setiap kondisi yg kujalani dikota bandung itu, kukirimkan separuh dari setiap gajiku untuk kedua orang tuaku, dan Alhamdulillah mereka sangat bahagia saat itu, sebab aku selalu mendapatkan kabar balik dari mereka melalui coretan tangan meylinda yg sejak kehadirannya dalam hidupku meskipun hanya sebagai seorang kekasih, begitu mendapat restu dari kedua orang tuaku, bahkan meylinda telah biasa berada dirumah, sebab rumahku dan meylinda hanya berjarak 500meter saja
Pendengar Nurani yg baik
Hari, minggu, bulan bahkan tahunpun berlalu, proses demi prosespun aku telah lalui, dan Alhamdulillah dengan izin Allah dan prestasi gmilang yg aku capai, aku diamanahkan oleh pimpinanku untuk menjadi manager diperusahaan cabang barunya yg berada disukabumi, aku merasa senang saat itu kukabari semua itu pada keluargaku, namun aku mulai merasa janggal dengan tidak pernah dating lagi balsan2 surat dari kampong halamanku, aku sendiri bingung dengan semua itu, akan tetapi kesibukan yg cukup menyita perhtianku membuat aku tak lagi memikirkan balasan2 surat itulagi, padahal aku pribadi telah memiliki target bahwa tepat 3 tahun setelah kepergianku tempo hari aku berniat pulang kampong dan mewujudkan segala harapan dan keinginanku yg telah kuniatkan sebelumnya, diantaranya adalah menikahi meylinda, berbinar wajahku manakala aku kembali menginjakkakan kakiku kembali kekampung, apalagi aku pulang dengan membawa sebuah pencapaian yg cukup membanggakan keluarga, saat itu yg ada dalam bayanganku adalah mewujudkan niat yg selama ini telah kurencanakan, bahkan kedatanganku sendiri telah kurahasiakan dari orang tuaku dan meylinda, dengan mengendarai mobil pribadi yg kubeli dengan hasil usahaku sendiri, aku kembali kekampung halaman dimana aku lewati bersama sejuta kenangan didalamnya.
Pendengar Nurani yg budiman
Gembira bercampur haru yg terjadi saat kedatanganku kembali kerumah, kupandangi lekat2 wajah kedua orang tuaku yg mulai renta itu, kubersimpuh sambil menangis dihadapan mereka..perlahan2 kutatap juga rumah kesayanganku yg penuh dengan kenangan indah masa kecilku, Alhamdulillah dana yg selalu aku kirim kekampung ternyata dimanfaatkan oleh ayah dan ibuku merenovasi rumah, sehingga rumah kami yg reok dulu terlihat telah berdiri kokoh, tak lama setelah perisitiwa mengharukan itu terjadi, tiba2 aku teringat meylinda, dengan izin dari kedua orang tuaku aku bergegas menuju kerumah meylinda dengan mengendarai mobilki, meskipun jarak rumah kami tidak terlalu jauh, aku sendiri bukan bermaksud pamer, tapi aku hanya ingin memperlihatkan semua ini pada dia calon  istriku yg tak lama lagi akan aku nikahi, dengan kecepatan standar kusetir mobilku hingga tepat dipintu pagar rumahnya meylinda, kudapati rumah itu ckup lengang dan sepi, hanya ada balita kecil yg bermain2 didepan rumah itu, kuparkir mobilku tepat didepan pintu pagar rumah meylinda, namun sebelum aku keluar dari dalam mobil itu, alangkah kagetnya aku ketika menyaksiakn dari dalam mobil sosok meylinda keluar dan mengambil balita itu kegendongannya, samar2 kudengar balita itu memanggilnya mama, dan meylinda dengan penuh cintanya menggendong balita itu. Bagai disambar petir kurasakan bulir2 dimataku mau runtuh, sakit hati..kecewa, dan amarah meliputi perasaanku.., ternyata meylinda telah menikah dengan pria lain dan tidak mengabari aku, bahkan saat ini telah memiliki seorang putra yg entah berapa tahun usianya, dengan menahan sejuta sesak didada kupacu mobilku kembali kerumah tanpa menoleh lagi pada wajah gadis yg begitu sangat aku cintai itu, hatiku galau..aku tidak menyangka bahwa akhirnya aku harus menelan kekecewaan yg teramat sangat, buah dari kesetiaanku selama ini.., begitu tiba dirumah aku segera menenmui kedua orang tuaku yg ternyata hanya ibu yg ada dirumah sebab bapak telah berangkat keladang.., saat itukulihat ibu seperti orang yg bingung mendapati aku yg terlihat bermuram durja, namunsebagai wanita yg mulai renta beliau tak member komentar apapun, bahkan ketika aku sampaikan niatku untk kembali kesukabumi karena ada urusan mendadak ibukupun hanya terpaku dalam diamnya…entahlah..aku tidak tahu apa yg ada dalam fikiran ibu menanggapi sikapku saat itu.., yg jelas aku sangat kecewa saat itu..aku kecewa mendapati kenyataan bahwa ternyata aku telah dikhianati oleh kekasihku yg begitu sangat aku sayangi..
Pendnegar Nurani yg budiman
Hari-hari kulalui begitu hampa setelah kejadian itu, bayang2 masa lalu serta kenangan2 indah yg pernah aku lewati bersama meylinda membuat aku sangat bermuram durja, aku sangat sulit untuk menyunggingkan senyumku, hari-hariku hampa dan tak berarti.., anda bukan karena  amanah dan tanggung jawabku diperusahaan itu, mungkinaku tak pernah datang2 lagi kekantorku.., dan entah secara kebetulan atau tidak, atasanku ternyata telah lama memperhatikan gelagatku yang seolah kehilangan semangat hidup, bahkan prestasi yang selama ini beliau banggakan dariku sudah mulai menurun, hingga suatu hari ketika ada kesempatan, aku diundang oleh beliau untuk membicarkan masalah yang sedang aku hadapi saat itu, Dan betapa kagetnya aku manakala kudengar solusi yang beliau tawarkan padaku setelah mendengarkan penuturanku tentang  kisah yang pernah aku jalani kulihat beliau terpaku memandangi wajahku dengan perlahan beliau angkat bicara dengan suara lantang yang membuat aku sendiri tidak percaya bahwa aku diminta menikahi putrinya, putri semata wayangnya, aku sendiri bahkan hampir tidak percaya mendengarkan hal itu, tetapi aku yakin bahwa atasanku pada saat itu bersungguh sungguh dengan kata kata yang baru saja dia ucapkan. karna kecewa dan sakit hati aku langsung mengiyakan penawaran tersebut dengan hanya menghitung waktu mulai dari perkenalanku dengan selvi nama putri semata wayangnya, pernikahan kamipun digelar dengan sangat meriah dan akhirnya aku menjadi anggota keluarga dari atasanku sendiri, bahkan aku diberikan kebebasan untuk mengelola manajemen perusahaan yang tengah aku bawahi saat itu dan Alhamdulillah waktu jualah yang membawaku pada suatu kebahagian bersama selvi istriku, Alhamdulillah  Allah menganugerahkan kami amanah yang sangat luar biasa manakala dari pernikahan kami membuahkan benih benih cinta hasil pernikahan itu selvi melahirkan seorang putri dari pernikahan kami berdua dan putri kami tercinta kami beri nama santi hari hari indah penuh bahagia aku lewati keluarga kecilku perlahan lahan aku lupakan kenangan kenangan pahit yang telah aku lalui di kampung halamanku kekecewaan sakit hati yang telah ditorehkan oleh melinda padaku waktu terus bergulir santi dengan cinta dan kasih sayang dari kami berdua kami perlakukan dia bag putrimahkota semua keinginannya kami turuti bahkan ketika dia beranjak dewasa santi memintaku mendaftarkan dirinya di sebuah universitas terkenal di kota kembang tersebut dan Alhamdulillah  dengan prestasinya yang luar biasa juga aku dan ibunya memberi dukungan penuh baginya santi lulus dalam penjaringan mahasiswa baru di sebuah universitas bonafiq yang ada dikota kembang tersebut
Waktu terus bergulir dan aku kembali disibukkan dengan berbagai kegiatanku sementara selvi istriku juga disibukkan dengan berbagai dengan kegiatan bersama teman temannya bahkan saat santi meminta untuk tinggal di asrama kamipun memberikan keleluasaan baginya dengan harapan bahwa dia berkreasi dan bias berprestasid dari semua itu apapun yang dia mau selalu kami turuti hingga suatu hari tepatnya hari sabtu dengan wajah buramnya santi mendatangi aku yang tengah duduk santai didepan televisi sepertinya ada ketakutan di wajahnya aku yang kenal sekali dengan watak santi telah bisa menebak bahwa pada saat itu santi tengah memiliki masalah dan betul saja secara kebetulan santi lebih dekat denganku ketimbang ibunya  akhirnya santi pun menceritakan bahwa ada seorang pria yang telah menarik hatinya di kampus dan bukan itu saja mereka telah resmi pacaran bahkan yang membuat aku sangat tercengang bahwa santi mengakui bahwa diantara mereka telah terjadi sesuatu yang tidak mestinya terjadi aku kaget dan sangat terkejut sebab kepercayaanku terhadap santi telah disia siakannya aku ingin marah saat itu aku ingin sekali memukulnya tapi naluriku sebagai seorang ayah yang akhirnya menurungkan niatku itu menetas air mataku apalagi pada saat kudengar santi mengakui bahwa siklus haidnya juga mulai terganggu dadaku berdegup kencang sekali aku semakin ingin marah padanya ya Allah ada apa dengan putriku dan aku kembali teringat kepada masa laluku kepada Melinda yang kepadanya aku telah berbuat senonoh  apakah ini hukuman buatku sehingga putriku harus seperti ini kupaksa dia mengakui tentang siapa lelaki yang telah berbuat seperti itu padanya dan dengan takut serta khawatirnya santi dia mengakui bahwa  kekasihnya itu yang telah memperlakukannya hingga seperti itu  bernama Rama ketika kutanya asalnya Rama darimana asalnya,  siapa orang tuanya santi mengakui bahwa Rama berasal dari sebuah daerah yang membuat aku sangat terperanjat karna daerah yang disebutkan oleh santi adalah kampung halamanku sendiri dan jantungku  semakin berdegup kencang  siapa orang tuanya Rama  malam itu aku tidak bisa tenang  memikirkan masalah santi aku khawatir nama baikku akan tercoreng akibat peristiwa ini apalagi aku seorang pengusaha apa kata orang nanti bila anakku harus hamil diluar nikah lagi lagi naluriku sebagai seorang ayah membawaku pada sebuah keharusan yakni meminta pertanggung jawaban kepada Rama atas perbuatannya kepada putriku berbekal keterangan dari santi mengenai alamatnya Rama aku dan selvi beserta keluarga besarku mendatangi rumah Rama untuk bertemu dengan kedua orang tuanya dan membicarakan kelanjutan dari  hubungan antara rama dan santi yang sudah terlalu berlebihan dadaku semakin berdegup kencang manakala mengetahui alamat yang ditujukan oleh santi adalah benar benar berada di sekitar lingkungan keluargaku di kampung halamanku sebelum aku kealamat tersebut aku mampir kerumahku aku menyisikan waktu untuk bertemu dengan kedua orang tuaku yang telah mulai renta saat itu kedua orang tuaku justru merasa kaget mendapati aku dan seluruh keluarga besarku dari bandung beramai ramai datang berkunjung bersilatuhrahmi kekampung halamanku semula orang tuaku mengira bahwa kunjungan itu hanya silatuhrahmi biasa tetapi begitu kuterangkan maksud kami ibuku terperanjat karna ternyata cucunya santi telah mengalami sebuah peristiwa yang sangat memalukan pada saat kutanyai pada ibu dan bapak tentang sebuah nama  Rama aku terangkan kepada kedua orang tuaku bahwa Ramalah yang telah melakukan ini semua pada putriku wajah ibuku semakin merah dia sepertinya gugup mendengar nama yang telah kusebutkan itu sepertinya orang tuaku marah manakala mengetahui  aku menyebut Rama sebagai  pelaku dari semua ini dan mereka juga sangat terkejut bahwa kedatangan kami saat itu untuk meminta pertanggung jawaban Rama saat itu aku semakin bengong tidak tahu harus berbuat apa padahal aku berharap bahwa orang tuaku mendukung semua ini
Saat itu perasaanku tidak menentu dan aku merasakan sum-sum tulangku terasa berhenti tidak nyambung lagi urat nadiku sudah mau berhenti  dan aku merasakan langit sudah mau runtuh mana kala bapak dan ibuku menjelaskan bahwa Rama itu putraku dari Melinda, kedua orang tua juga menjelaskan bahwa Melinda tidak menikah oleh siapapun  setelah kepergianku,bahkan kedua orang tua menjelasakan  bahwa hingga saat ini Melinda kasih tetap menanti aku,aku sedih saat itu perlahan air mataku membasahi pipiku apakah ini hukuman buatku?.pada saat itu kurasakan dan bukan aku saja yang merasakan  tapi seluruh keluarga besarku merasakan bahwa seolah  kami merasakan kedukaan yang sangat luar biasa dengan peristiwa ini,aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, apalagi mengetahui kenyataan bahwa putriku telah hamil diluar nikah dan pria yang telah menghamilinya adalah putraku sendiri, darah dagingku sendiri dari seorang wanita yang telah kunodai dulu dan tidak kunikahi,
Pendengar nurani yang budiman,
pada saat itu kurasakan semuanya terasa gelap, air mataku seolah tidak pernah henti-hentinya berderai  dari mataku, aku bingung tak tahu harus berbuat apa, aku merasa bersalah atas semua ini, apalagi aku tidak memperhatikan pergaulan Santi  sehingga harus terjebak dalam perbuatan seperti ini dan aku semakin bingung ternyata mereka adalah bersaudara, Ya Allah…apakah ini hukuman buatku…?, apa yang harus aku lalukan, mengetahui hal tersebut Santi SyOK  karna tidak menyangka bahwa kekasih pujaan hatinya, lelaki yang telah menodainya adalah kakak kandungnya sendiri ,Ya Allah…ampuni kami, ampunilah dosa-dosaku, aku tahu ini adalah hukumanmu atas prilakuku dimasa mudaku dulu,pendengar nurani budiman,akhirnya saat itu pernikahanpun di batalkan namun aku bingung bagaimana aku harus menjawab pada cucuku nanti siapa ayahnya, apa yang harus aku lakukan.., aku bingung.., dan hingga saat ini Santi tidak kuberikan kebebasan untuk berbuat apapun bahkan tidak kuijinkan untuk meneruskan kuliahnya.., aku malu.., akupun melihat Santi Nampak SYOK dengan peristiwa tersebut, dia sepertinya tidak mau menerima kenyataan pahit itu, dimana lelaki   yg nyaris menikahinya dan telah memberinya janin yg sedang dia kandung saat itu ternyata adalah kakak kandungnya sendiri,  tetapi apa boleh dikata nasi sudah menjadi bubur ,saat ini aku berusaha mengkulsuntasikan masalah ini kepada pihak-pihak terkait yang lebih paham masalah syar’inya
WASSALAM…..
           

5 komentar:

  1. Tulisannya diedit dong...
    Siapa yg salah???Semua salah...tapi yg paling salah...adalah orang tuanya...

    BalasHapus
  2. BISMILLAH.. afwan,,, ana idzin copy ke blog Ana Herlinacandra.blogspot.com ( mujahidah pendamba syahid ) alamat blog ini tetap ana tampilkan

    BalasHapus
  3. ah gilaa....terus gimane kedepannya..ceritanya sepotong doang nih...

    kalo aku (laki2 19 thn)
    aku udah ketemu ama ibu aku setelah selama 12 thun tidak bertemu , akibat perceraiannya dengan ayahku belasan tahun silam..
    ditahun 2011 aku ktemu ibu aku,disaat itu ibuku sudah mempunyai 2 anak..laki-laki dan perempuan..

    untungnya aku udah ktemu kluarga kemungkinan kecil kalo aku belum ktemu bisa jadi kalo kecelakaan aku nikah dengan adik ,....ihhhhh ...ngeri baget...

    kelanjutanya gimana nih?

    BalasHapus
  4. Kesalahan yang paling sepele tapi berakibat fatal adalah ketika anda tak cukup jantan menemui melylinda ketika ada seorang anak kecil yang memanggilnya mama

    BalasHapus
  5. Seharusnya saat itu anda turun dan menemui melylinda shg tidak terjadi peristiwa seperti ini, krn sudah terjadi kt kembalikan kepada Allah krn apa yg terjadi sdh kehendakNya

    BalasHapus